Lucu Sih Yang Harus Berbakti Itu Orang Tua Bukan Anak!
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Sebuah unggahan di Threads dari akun @fariz.gamal mendadak viral dan memantik keprihatinan publik. Dalam unggahannya, dia menuliskan logika yang begitu percaya diri:
Logikanya: yang memilih untuk punya anak adalah orangtua, anak gapernah ngasih consent. Kesimpulannya: yang harus berbakti adalah orang tua, bukan anak 😆. Sekarang aku besarin anak gapernah ngajarin dia untuk berbakti, lah ya buat apa 🫣
Membaca unggahan tersebut membuat kita mengelus dada sekaligus bertanya-tardanya: sejak kapan ikatan darah dan kemanusiaan terdegradasi menjadi sekadar kalimat konyol di media sosial?
Apakah banyak yang setuju? Mayoritas komentar sepakat dengan utas tersebut, mungkin mereka merasa terbebani untuk berbakti kepada orang tua, karena pengalaman pait masa lalu atau memahami yang tidak faham.
Membongkar Kerancuan Orang Tua Yang Harus Berbakti
Pernyataan di atas seolah-olah ingin memosisikan diri sebagai pemikiran yang paling modern, terdepan, dan paling aware soal hak anak. Padahal, jika kita bedah pakai akal sehat dan analisis sosio-legal, narasi tersebut justru memperlihatkan kebangkrutan logika berpikir.
1. Mereduksi Konsep Berbakti Menjadi Kewajiban Sepihak
Menyimpulkan bahwa orang tua yang harus berbakti adalah bentuk kerancuan linguistik dan hukum. Orang tua memang memiliki kewajiban pemeliharaan dan pengasuhan (parental duty) seperti memberi makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kasih sayang.
Namun, menyebut kewajiban pengasuhan itu sebagai berbakti adalah pelintiran kata yang sangat ngawur. Berbakti itu adalah wujud adab, rasa hormat, dan tenggang rasa.
2. Banalitas Konsep Consent
Mengaitkan hadirnya anak dengan persetujuan (consent) adalah bentuk kekonyolan eksistensial. Consent hanya berlaku bagi subjek hukum yang sudah wujud, cakap, dan sadar. Meminta persetujuan pada entitas yang belum ada secara biologis adalah kegagalan fatal dalam memahami doktrin hukum keperdataan.
Logika Tandingan: Bagaimana Jika Anak Yang Lahir Tidak Normal?
Mari kita balik logika @fariz.gamal ini ke titik yang paling ekstrem dan emosional.
Jika logika yang dipakai adalah orang tua yang memilih punya anak, maka orang tua yang wajib berbakti, mari kita tanyakan pada realitas kehidupan: Orang tua mana yang berdoa dan meminta supaya anaknya lahir abnormal, cacat fisik, atau mengidap autisme berat?
Gak ada! Semua orang tua membayangkan punya anak yang sempurna, sehat, dan menggemaskan.
Lalu, ketika anak yang lahir ternyata tidak sesuai ekspektasi orang tua lahir dengan kondisi abnormal dan membutuhkan biaya perawatan medis serta energi pengasuhan yang luar biasa besar sepanjang hidupnya apakah orang tua bisa bilang:
Wah, saya gak setuju punya anak abnormal begini. Saya kan mintanya anak yang normal dan sehat. Ya udah, saya gak mau berbakti ngerawat dia!
TENTU TIDAK BISA!
Hukum positif di Indonesia (melalui Pasal 305 KUHP dan UU Perlindungan Anak) bakal melibas orang tua tersebut dengan ancaman penjara jika nekat menelantarkan atau membuang anak abnormal itu.
Mengapa? Karena begitu bayi meluncur ke dunia, dia punya hak hidup (right to life) yang dijamin oleh negara dan Tuhan, lepas dari apakah dia sesuai pesanan orang tuanya atau tidak!
Kenapa Anak Tetap Punya Kewajiban Berbakti?
Jika orang tua DIPAKSA HUKUM DAN MORAL untuk tetap bertanggung jawab memelihara anaknya bahkan saat anak tersebut lahir tidak sesuai harapan atau abnormal dengan logika dari mana seorang anak yang tumbuh dewasa merasa BEBAS DARI KEWAJIBAN BERBAKTI hanya karena alasan kan saya gak pernah minta dilahirkan?
Dunia hukum memandang hubungan ini sebagai kewajiban timbal balik (reciprocal duty) yang berasaskan kemanusiaan:
- Orang tua wajib merawat anak saat anak berada di titik paling tidak berdaya (bayi/balita).
- Anak wajib menghormati dan merawat orang tua saat orang tua mulai kehilangan keberdayaannya (lansia).
Mendidik anak tanpa mengajarkan rasa berbakti dan adab seperti yang dibanggakan dalam unggahan Threads tersebut bukanlah bentuk kebebasan, melainkan tindakan membentuk generasi yang krisis rasa empati.
Kesimpulan: Ikatan Keluarga Bukan Transaksi Oportunistik
Unggahan-unggahan viral ala @fariz.gamal adalah cermin dari virus individualisme-liberal yang berusaha mengikis fondasi paling mendasar dari masyarakat, yaitu keluarga.
Keluarga itu berdiri di atas ikatan tanpa syarat (unconditional bond) dan solidaritas kemanusiaan. Mengukur ikatan orang tua dan anak pakai timbangan consent dan transaksi siapa yang minta siapa hanya akan merusak tatanan sosial, hingga akhirnya manusia tak ubahnya seperti produk komersial yang dihitung untung-ruginya saja.

Posting Komentar