Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.
Founder KunciPro Research | Peneliti Cyber Law & Sosiolegal
Jika kamu pikir drama perundungan terhadap almarhum Yurizal di media sosial hanya dilakoni oleh oknum dokter bergelar mentereng, kamu salah besar. Di balik riuh amarah netizen, muncul satu nama yang tak kalah menyedot perhatian dan bikin urut dada: Norma Zahara, dibalik akun @nouzzha_kim.
Bagi yang belum mengikuti alur dosanya di Threads atau X, Norma Zahara diketahui bekerja sebagai staf Database Administrator di RSUD dr. Soekardjo, Tasikmalaya.
Bukannya bersikap netral atau menunjukkan empati paling mendasar sebagai pelayan publik di instansi kesehatan, jemari wanita ini justru meluncurkan ketikan yang sangat tidak beradab saat merespons curhatan almarhum yang tertahan 8 jam di ruang tunggu:
Yuriz org miskin harta miskin ilmu miskin akal tp pgn diistimewain. 8 jam sangat sangat wajar apalagi kat lo itu RS rujukan nasional... LO GOBLOK BANYAK BACOT!
Membaca kalimat itu rasanya seperti disiram air keras. Kata-kata seperti miskin harta, miskin ilmu, miskin akal dan umpatan kasar goblok banyak bacot meluncur begitu saja dari mulut seseorang yang saban hari mencari nafkah dari lembaga tempat orang-orang sakit dan sekarat menggantungkan harapan.
Apakah bersuara hanya milik orang-orang terpelajar?
Apakah suara hanya milik orang-orang kaya?
Ketika ada orang yang pakai BPJS Kesehatan disuruh bungkam, kenapa menilai seseorang dari rupa, harta dan tahta.
Penyakit Nirempati yang Menjalar ke Karpet Merah Birokrasi
Fenomena Norma Zahara ini menjadi potret buram yang sangat telanjang. Ternyata, penyakit arogan dan krisis empati di lingkungan rumah sakit tidak hanya menggerogoti sebagian oknum tenaga medis di garda depan, tetapi sudah merembet hingga ke jajaran staf belakang meja (back office).
Ada semacam toxic solidarity atau solidaritas sesat yang janggal: ketika ada pasien yang mengeluhkan buruknya birokrasi, sebagian pegawai rumah sakit merasa bahwa lembaga dan profesinya tidak boleh disenggol sedikit pun. Bukannya bercermin untuk memperbaiki layanan, mereka justru bersatu padu menyerang dan merendahkan status sosial si pasien.
Logika sesatnya kira-kira begini: Kamu kan pasien BPJS, orang miskin yang numpang berobat, jadi terima saja kalau ditelantarkan. Jangan banyak protes!
Padahal, staf administrasi seperti Norma Zahara ini digaji dari anggaran operasional rumah sakit negeri yang pasokannya berasal dari APBD/APBN yang tak lain dan tak bukan dihimpun dari pajak seluruh rakyat Indonesia.
Mengatai masyarakat sebagai miskin harta dan akal sementara gajinya sendiri dibiayai oleh pajak rakyat adalah tingkatan paling puncak dari ironi seorang pelayan publik.
Cyber Vigilante: Ketika Hukum Digital Mengambil Alih
Di dunia maya, keangkuhan yang melampaui batas selalu punya tanggal kadaluarsa yang sangat singkat.
Hanya dalam hitungan jam setelah ketikan kasarnya viral, kekuatan solidaritas netizen (cyber vigilante) langsung bergerak tanpa ampun. Konsekuensi dari hukum digital pun berlaku seketika:
- Sanksi Sosial / Doxxing Total: NIK, nomor HP, foto-foto pribadi saat olahraga lari, alamat rumah di Tasikmalaya, hingga riwayat pekerjaannya dikuliti habis-habisan oleh netizen dan diunggah ke berbagai platform.
- Serangan ke Instansi Tempat Kerja: Akun media sosial RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya langsung digempur puluhan ribu komentar pedas dari masyarakat yang menuntut tindakan tegas dan pemecatan.
Ini menjadi pelajaran yang sangat mahal. Di era transparansi digital saat ini, ketika saluran pengaduan resmi sering kali lambat dan majelis etika internal terkesan melindungi sejawat, masyarakat akan menggunakan sanksi sosial digital sebagai alat penyeimbang keadilan.
Cermin Bagi Setiap Pelayan Publik
Kasus Norma Zahara memberikan kita satu pesan penting: jabatan atau posisi di tempat kerja sekecil atau sebesar apa pun itu tidak akan pernah memberikan lisensi bagi siapapun untuk merendahkan martabat manusia lain yang sedang tertimpa musibah.
Jabatan Database Administrator mungkin berurusan dengan data dan angka mati di dalam komputer. Namun, rumah sakit adalah tempat berkumpulnya nyawa, rasa sakit, dan harapan manusia.
Jika seseorang yang bekerja di lingkungan kesehatan sudah kehilangan rasa kemanusiaannya dan memandang pasien sebagai beban yang boleh dimaki-maki, maka yang sebenarnya miskin akal dan nurani bukanlah si pasien melainkan dirinya sendiri.
Namun jangan mudah teralihkan isu hanya menguliti remah-remahnya tanpa menelusuri Rumah Sakit Mana yang telah menelantarkan Yurizal Tri 8 Jam tanpa kepastian hingga berujung wafat.
