​Anggaran Triliunan, Kenapa Output Riset BRIN Cuma Keripik?

Ekspektasi besar kepada BRIN membuat rakyat kecewa ketika pameran riset justru genteng, kripik, sepatu. By Sosiolegal

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research | Peneliti Sosio-Legal

​Di panggung Istana Negara kemarin, Presiden Prabowo Subianto kelihatan serius banget waktu meninjau pameran hasil inovasi buatan 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sebagian dari kita yang nonton potongannya di X, Threads, atau TikTok mungkin sempat menarik napas dalam-dalam. Ada ekspektasi tinggi yang tersimpan di kepala rakyat:

kali ini lembaga riset tunggal milik negara mau pamer teknologi canggih apa ya?

​Dalam bayangan masyarakat awam, lembaga kelas nasional beranggaran triliunan rupiah ini minimal bakal memamerkan terobosan kedaulatan siber, arsitektur kecerdasan buatan (AI) lokal, atau inovasi energi terbarukan yang bikin kening peneliti luar negeri berkerut.

Tapi ya begitu, realita lapangan sering kali punya selera humor yang agak lain.

​Di antara sorotan kamera media dan dinginnya pendingin udara Istana, produk yang mendadak paling ramai dibahas dan dicicipi justru: keripik ubi ungu, genteng, dan sepatu.

​Sontak saja momen tersebut langsung jadi santapan empuk netizen di media sosial. Komentar sarkas bertebaran di mana-mana.

Banyak yang heran dan bertanya-tanya, kok bisa lembaga raksasa yang menaungi ribuan peneliti senior dari berbagai disiplin ilmu malah menjadikan produk olahan pangan harian sebagai highlight pameran kelas utama di depan Presiden.

​Bayangkan saja adegan imajiner di kantin sebuah universitas riset luar negeri, pas anak-anak muda diaspora Indonesia lagi nongkrong bareng mahasiswa asing:

Mahasiswa Tiongkok: Negara gue baru aja nyempurnain reaktor fusi nuklir EAST alias 'matahari buatan' buat nyari sumber energi bersih masa depan. Kalau lembaga riset nasional di negara lu lagi sibuk bikin apa?

Mahasiswa Indonesia: (Tersenyum tipis sambil membuka bungkus plastik di atas meja) Ada sih... peneliti kita berhasil ngolah ubi ungu varietas unggul jadi keripik renyah pakai teknologi vacuum frying. Terus ada genteng presisi tinggi sama sepatu juga.

Mahasiswa Tiongkok: (Hening sejenak, bingung mau merespons gimana) "..."


​Jujur saja, sindiran seperti ini muncul bukan karena rakyat benci sama periset atau berniat mendiskreditkan kerja keras mereka di laboratorium. Kita semua paham bahwa riset diversifikasi pangan, pemuliaan bibit lokal, dan teknologi tepat guna itu memang ada manfaatnya untuk sektor UMKM.

Namun, menempatkan keripik ubi ungu sebagai produk jualan utama di pameran riset skala Istana itu ibarat membawa hidangan hajatan RT ke restoran bintang lima. Serba canggung, aneh, dan salah kostum.

​Gimana orang tidak mengelus dada? Di berbagai pelosok daerah, kita sering banget membaca berita anak-anak SMA atau mahasiswa tingkat awal yang berhasil menciptakan alat pendeteksi banjir, sistem olah limbah berbasis IoT, sampai robotik sederhana yang memenangkan medali di ajang internasional.

Modal mereka sering kali cuma nekat, bimbingan guru yang tulus, serta uang patungan para orang tuabukan suntikan anggaran APBN bernilai 6 triliun rupiah.

​Ketika anak-anak sekolah yang modalnya urunan saja berani bermimpi melompati zaman, rasanya sangat wajar kalau publik berharap lembaga sekelas BRIN tidak melulu menyuguhkan produk yang skalanya mirip lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat kecamatan.

​Problem Komunikasi Publik dan Kedaulatan Digital

​Kalau kita bedah dari sudut pandang sosiologi teknologi, ada persoalan mendasar tentang bagaimana riset nasional dikomunikasikan ke publik.

Di tengah gempuran isu kebocoran data, ancaman siber, dan ketergantungan kita pada platform media sosial asing, masyarakat merindukan hadirnya inovasi berbasis high-tech. Publik ingin melihat bagaimana hasil riset negara mampu menjawab tantangan zaman yang serba digital.

​Ketika yang dimunculkan ke permukaan justru teknologi pengolahan pangan sederhana, terjadi benturan ekspektasi yang sangat tajam.

Riset ubi ungu varietas unggul itu tidak salah, tapi cara mengemas narasi publiknya yang membuat BRIN terkesan jalan di tempat. Seolah-olah fokus utama lembaga riset nasional kita berhenti pada urusan pemenuhan konsumsi fisik semata, tanpa ada lompatan besar di bidang sains modern.

​Jebakan Quick Win di Mata Birokrasi

​Masalah utama dari fenomena ini sebenarnya klasik: jebakan mengejar produk instan (quick win) yang gampang dipahami pejabat politik.

​Di mata birokrasi dan politisi, riset teknologi tinggi seperti arsitektur media sosial lokal yang aman, sistem keamanan siber nasional, atau riset farmasi molekuler itu sifatnya sangat abstrak.

Riset-riset tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun, memakan biaya besar, dan memiliki risiko kegagalan yang tinggi.

​Sebaliknya, produk fisik seperti keripik ubi, genteng, atau sepatu adalah bentuk nyata yang wujudnya langsung kelihatan. Produk-produk ini paling gampang dipegang, difoto, dan dicicipi langsung di depan kamera media.

Demi memberikan kesan bahwa hasil riset bisa langsung dirasakan rakyat, pameran skala nasional akhirnya malah terjebak pada kemasan yang kelihatan sangat dangkal di mata masyarakat.

​Masyarakat sebenarnya tidak ada masalah sama keripik ubi ungu atau teknologi pembuatan genteng. Tapi untuk negara sebesar Indonesia yang punya cita-cita menjadi kekuatan ekonomi dunia, publik cuma ingin melihat lembaga riset nasionalnya berani bermimpi sedikit lebih tinggi.

Rakyat merindukan hadirnya inovasi yang bikin bangga pas dipamerkan di panggung dunia, bukan sekadar produk yang berhenti di urusan dapur dan atap rumah.

Posting Komentar